Sumbangan Duta Kemanusiaan Malaysia Dan Diplomasi Kemanusiaan Malaysia Di Afghanistan, Advokasi Malaysia Untuk Palestin Dan Bantuan Kemanusiaan Malaysia Kepada Bosnia-Herzegovina: Satu Kajian Kualitatif Merentas Tematik
Malaysia’s Humanitarian Ambassadorship and Diplomacy in Afghanistan, Advocacy for Palestine And Humanitarian Assistance to Bosnia-Herzegovina: A Cross-Thematic Qualitative Study
Abstract
ABSTRAK
Makalah ini mengkaji interaksi kompleks antara keselamatan, kestabilan dan pembangunan ekonomi. Makalah ini turut menekankan bagaimana konflik yang berterusan, ketidakstabilan politik dan ketidaktentuan ekonomi menjejaskan kemakmuran global. Kupasan ini mengkritik asas materialistik kapitalisme yang telah menyuburkan ketidaksamaan sosial berstruktur dan meminggirkan komuniti yang rentan. Ketidak samaan sosial berstruktur ini sering membawa kepada peperangan dan konflik yang berulang-berulang. Sebagai respon kepada fenomena persaingan dan ketidak samaan ini, aktivisme kemanusiaan merentas sempadan telah berkembang sejak beberapa dekad kebelakangan ini, membentuk "persaudaraan”atau ”gerakan solidariti kemanusiaan global" yang saling berangkai dan saling berkaitan. Gerakan solidariti kemanusiaan global ini terdiri daripada Dunantists dan Wilsonians; dua aliran pemikiran yang disatukan oleh misi bersama untuk meringankan penderitaan manusia melalui diplomasi kemanusiaan. Berdasarkan penglibatan kemanusiaan Malaysia di Afghanistan, Palestin dan Bosnia-Herzegovina, makalah ini membincangkan bagaimana diplomasi kemanusiaan melengkapkan diplomasi politik negara dan menyumbang kepada kepentingan negara. Makalah ini turut mengenal pasti tiga bentuk aset negara yang bersifat tidak ketara; jangkauan pengaruh politik, jangkauan reputasi dan jangkauan material berdaulat, semuanya dihasilkan melalui usaha kemanusiaan. Aset ini, di samping keuntungan ekonomi yang ketara, adalah penting untuk memajukan keperluan strategik negara melalui diplomasi dan kuasa lunak yang berbeza dengan kuasa senjata. Kajian itu berpendapat bahawa diplomasi kemanusiaan dan diplomasi politik mesti beroperasi seiring, memerlukan kerjasama antara aktor negara dan bukan negara. Sinergi ini memupuk negara yang didorong oleh kemanusiaan kekal yang memanfaatkan krisis dan bencana secara strategik untuk manfaat bersama. Akhirnya, makalah ini menawarkan rangka kerja rentas disiplin untuk memahami bagaimana aktivisme kemanusiaan membentuk semula amalan diplomatik dan strategi ekonomi dalam realpolitik moden.
Kata kunci: diplomasi kemanusiaan, aset tidak ketara berdaulat, jangkauan pengaruh politik, jangkauan reputasi, jangkauan material berdaulat
ABSTRACT
This paper examines the complex interplay between security, stability, and economic development, emphasizing how persistent conflict, political instability, and economic uncertainty undermine global prosperity. It critiques the materialistic foundations of capitalism for fostering structural inequalities and marginalizing vulnerable communities, often leading to war and recurring disasters. In response, trans-boundary humanitarian activism has flourished over recent decades, forming a loosely connected “global humanitarian fraternity” composed of Dunantists and Wilsonians; two schools of thought united by a shared mission to alleviate human suffering through humanitarian diplomacy.
Drawing on Malaysia’s humanitarian engagements in Afghanistan, Palestine, and Bosnia-Herzegovina, the paper explores how humanitarian diplomacy complements traditional state diplomacy and contributes to national interests. It identifies three forms of intangible national assets; political mileage, reputational mileage, and material mileage, all generated through humanitarian efforts. These assets, alongside tangible economic gains, are essential for advancing a state’s strategic imperatives.
The study argues that humanitarian diplomacy and traditional diplomacy must operate in tandem, requiring collaboration between state and non-state actors. This synergy fosters a permanent humanitarian-driven statecraft that strategically leverages crises and disasters for mutual benefit. Ultimately, the paper offers a cross-disciplinary framework for understanding how humanitarian activism reshapes diplomatic practice and economic strategy in the modern realpolitik.
Keywords: humanitarian diplomacy, sovereign intangible assets, political mileage, reputational mileage, material mileage