THE MARGINALIZATION OF STREET VENDORS (PKL) AMIDST THE REALIZATION OF MODERN MARKET DEVELOPMENT (PEMINGGIRAN JALANAN PEDAGANG (PKL) DI TENGAH-TENGAH PENCAPAIAN PEMBANGUNAN PASARAN MODEN)

Mahpuddin -, Ilyas Lampe, Sumarni Zainuddin, Muchri Ramah, Israwaty Suryadi

Abstract


Abstract

Traditional Markets (PasarTradisional, abbreviated as Patra) of Manonda has a long history of the social, economic and political struggles of the people of Palu and its surroundings. Even issues such as inter-ethnic security and conflicts in the past are often associated with social and economic events.Recently, the issue of street vendors (Pedagang Kaki Lima, abbreviated as PKL) relocation surfaced again in public spaces as the theme of the conversation which until now has not reached the completion thoroughly. The problem is difficult to be separated from the government policy that has changed the status of the traditional market of Manonda into a central market and eventually turned into modernized traditional market (Patra-Modern). As a result, these policies triggered the birth of horizontal social violence as well as structural violence. From the entire occurrence formed, in the end the merchants become the marginalization victim.This study applies Critical perspective to reveal comprehensively the factors that become the basis of the problem of violence within the Manonda market, especially related to the merchant relocation policy. This perspective is based on the basic assumption that, in reality, violence within the market is a product of a power struggle between concerned parties such as; traders (PKL), private sectors and Palu city government.To answer the aforementioned problems, the authors and research subjects conduct intersubjective dialogue (especially to street vendors) to explore various aspects that trigger violence within the Manonda market. Through the operational stages of Donald E. Comsctok's version of Critical method, various interrelated conditions can be clearly, comprehensively and critically explained.The results show that the violence behind the street vendors’ relocation policy is a continuation of the city government's misperception. The error is based on the reducted meaning of the society development which tends to be limited to economic issues and ignores other aspects such as the realization of a sense of social justice. By utilizing the theoretical analysis tools of Critical School thinkers, this study offers a formulative solution to find a fair consensus and mainstreaming the discursive and deliberative problem-solving.

Keywords: Street Vendors Marginalization, Violence, Relocation Policy

 

Abstrak

Pasar Tradisional (PasarTradisional, disingkat Patra) Manonda mempunyai sejarah panjang perjuangan sosial, ekonomi dan politik rakyat Palu dan sekitarnya. Malah, isu-isu seperti keselamatan antara kaum dan konflik pada masa lalu sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa sosial dan ekonomi. Baru-baru ini, isu pedagang Kaki Lima, disingkat sebagai PKL) muncul semula di ruang awam sebagai tema perbualan yang sehingga kini belum sampai selesai dengan sempurna. Masalahnya sukar dipisahkan dari dasar kerajaan yang telah mengubah status pasar tradisional Manonda menjadi pasar pusat dan akhirnya berubah menjadi pasar tradisional modern (Patra-Modern). Akibatnya, dasar-dasar ini mencetuskan kelahiran keganasan sosial mendatar serta keganasan struktur. Dari keseluruhan kejadian yang terbentuk, pada akhirnya para pedagang menjadi korban marginalisasi. Kajian ini menggunakan perspektif Kritikal untuk mengungkap secara komprehensif faktor-faktor yang menjadi dasar masalah kekerasan di dalam pasar Manonda, terutama yang berkaitan dengan kebijakan relokasi pedagang. Perspektif ini adalah berdasarkan andaian asas bahawa, pada hakikatnya, keganasan di dalam pasaran adalah hasil perjuangan kuasa antara pihak yang bersangkutan seperti; peniaga-peniaga (PKL), sektor swasta dan kerajaan bandar Palu. Untuk menjawab masalah yang disebutkan di atas, para pengarang dan subjek penyelidikan menjalankan dialog intersubjektif (terutama kepada vendor jalan) untuk meneroka pelbagai aspek yang mencetuskan keganasan di dalam pasaran Manonda. Melalui peringkat operasi kaedah Kritikal versi Donald E. Comsctok, pelbagai keadaan yang saling berkaitan dapat jelas, secara komprehensif dan kritikal dijelaskan. Hasilnya menunjukkan bahawa keganasan di sebalik dasar penempatan semula vendor jalanan adalah kesinambungan salah tanggapan pemerintah kota. Kesalahan itu adalah berdasarkan makna pengurangan pembangunan masyarakat yang cenderung terhad kepada isu-isu ekonomi dan mengabaikan aspek-aspek lain seperti merealisasikan keadilan sosial. Dengan menggunakan alat analisis teoritis dari pemikir Kritikal Sekolah, kajian ini menawarkan penyelesaian formulasi untuk mencari konsensus yang adil dan mengarusutamakan pemecahan masalah diskursif dan lazim.

Kata kunci: Pembasmian Peminggiran Jalanan Dagangan, Keganasan, Dasar Penempatan Semula

 

Full Text:

PDF

References


Brown, R. 2005. Prejudice: Its Social Psychology.(Terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bungin, B. 2003. Teknik-Teknik Analisis Kualitatif dalam Penelitian Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Comstock, D. E. 1980. A Method for Critical Research, Investigating the World to Change it. Washington: Washington State University.

Hajar, S. 2013. Model Pengelolaan Konflik di Pasar Inpres Manonda Palu Kecamatan Palu Barat Sulawesi Tengah. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Hardiman, F. B. 2009. Demokrasi Deliberatif. Yogyakarta: Kanisius.

Hardiman, F. B. 2010. Etika Politik Habermas.

Honneth, A. 1996. The Struggle for Recognition: The Moral of Grammar Social Conflict. Cambridge: The MIT Press.

Madison, D. S. 2005. Critical Ethnography: Method, Ethics, and Performance. California: Sage Publication.

Mamar, S., & et. al. 2008. Potensi Kearifan Budaya Lokal yang Mendukung Kehidupan Damai Masyarakat di Kota Palu. Palu.

Patta, K., & Mahpuddin. 2011. Pengembangan Model Perencanaan Komunikasi Antaretnik Sebagai Solusi Atas Menguatnya Kesadaran Etnisentrisme (Studi Komunikasi Antaretnis Kaili-Bugis di Kota Palu).

Palu.

Shiraev, B., & Levy, A. 201. Cross-Cultural Psychology: Critical Thinking and Contemporary Application (Terj.). Jakarta: Kencana Perdana Media Group.

Striniati, D. 2004. Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (Terjemahan). Yogyakarta: Bentang Pustaka.

W. Cresswell, J. 2009. Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches Third Edition (Terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wirawan, S. S. 1996. Psikologi Sosial (Individu dan Teori-Teori Prikologi Sosial). Jakarta: Balai Pustaka


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Malay Arts, Culture and Civilization Research Group,

d/a Institut Alam dan Tamadun Melayu
Universiti Kebangsaan Malaysia
43600 UKM Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia
Tel: +60 3 8921 5280 | Email: ajehh@ukm.edu.my